Hakikat Hidup
Terkadang manusia bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa hakikat
hidup ini. Kebingungan mengenai hakikat hidup telah banyak membuat manusia lupa
diri dan melupakan Tuhan pencipta alam. Kelupaan akan Tuhannya membuat manusia
susah mengendalikan hawa nafsu, terus mengejar kehidupan dunia dan meninggalkan
ibadahnya. Padahal ibadah kepada Allah merupakan modal besar amalan kita menuju
gerbang kehidupan akhirat yang hakikinya akan dijumpai setelah wafatnya diri.
Secara ringkas, hakikat hidup bisa dipetik dari pernyataan Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, awal kehidupan adalah tangisan, pertengahannya adalah ujian dan ujungnya adalah kefanaan. Ketika lahir Anda menangis, dan tangisan itu akan menjadi warna kehidupan.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. 57:20)
Dalam proses menjalani kehidupan, seseorang pasti akan menemui
ujian hidup. Walaupun kadar kesulitannya berbeda-beda, ujian hidup itu pasti
akan dijumpai oleh setiap hamba Allah. Ujian ini merupakan proses pendewasaan
diri bagi manusia, dan jika manusia bisa sabar mengahadapinya maka Allah akan
meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat.
Namun, kebanyakan orang sering lupa dan sombong tidak mau bersyukur ataupun beribadah kepada Allah karena telah merasa puas dengan apa yang dimiliki saat ini. Orang yang memiliki gelar akademis atau pangkat yang tinggi terkadang merasa bisa melakukan semuanya tanpa perlu meminta pertolongan dari Allah. Orang tersebut menganggap semua masalah yang ada ia hadapi dapat diselesaikan dengan gelar atau pangkat yang dimilikinya. Ia lupa dari mana semua itu berasal. Padahal hakikinya semua yang dimiliki manusia sekarang ini adalah pemberian Allah yang sifatnya sementara. Semua itu akan ditinggalkan ketika ajal seorang manusia telah tiba.
Dalam Al-quran telah dijelaskan “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan” (QS.21:35). Dari ayat tersebut hendaknya bisa disadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka akan sangat rugi bagi seseorang yang tidak mau berbuat baik atau memperbanyak ibadah sebagai bekal menuju akhirat nantinya.
Jadikan dunia ini sebagai sarana untuk mencari bekal menuju akhirat. Karena di akhirat nanti manusia hanya bisa memetik apa yang telah mereka semai semasa hidup di dunia. Jika menyemai benih kebaikan di dunia, maka manusia akan memetik kebaikan di akhirat nanti, begitu juga sebaliknya.
0 komentar:
Posting Komentar