Minggu, 30 Oktober 2016

PERANAN OPINI MEDIA MASSA




Kata opini berasal dari bahasa Inggris: Opinion yang memiliki arti pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan atau preferensi tertentu terhadap perspektif dan ideologi, akan tetapi bersifat tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian. Dapat pula merupakan sebuah pernyataan tentang sesuatu peristiwa yang dimungkinkan berlaku pada masa depan



Pada media online maupun cetak, opini memiliki peran penting untuk memberi pandangan terhadap sebuah peristiwa yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat. Apapun bentuk opini tersebut, baik artikel, karikatur,  ataupun tajuk rencana, semuanya harus berdasarkan fakta opini. Saat ini yang paling memiliki dampak adalah opini di media online. Hal ini karena penyebaran informasi di media online yang sangat cepat tanpa mengenal batasan waktu dan lokasi.


Selain berperan sebagai pemberi perspektif bagi khalayak, opini media juga bisa menjadi sarana edukator bagi para pembacanya. Melalui informasi fakta opini yang mengedukasi, pembaca akan dapat lebih memahami terhadap suatu kejadian atau peristiwa. 


Opini media akan memberi pandangan baru terhadap peristiwa yang sedang disoroti oleh masyarakat. Media massa akan menjadikan opini sebagai alat untuk mempengaruhi pola pikir para pembacanya. Hal ini yang dimanfaatkan media untuk menggiring masyarakat agar sejalur dengan media itu. Respon pembaca merupakan cerminan masyarakat bagi media tersebut apakah berhasil mempengaruhi pola pikir khalayak atau tidak.



Peran opini pada media massa akan menentukan media tersebut akan melangkah ke arah mana. Media massa bisa menentukan opini mereka mendukung kebijakan pemerintah atau lebih memilih untuk bersifat independen. Keduanya tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, karena pers sebagai kaki keempat demokrasi dan dalam demokrasi memerlukan keseimbanagan bentuk pola pikir pemerintah dan masyarakat. Jika mayoritas media memilih beropini secara independen, mengkritisi semua kebijakan pemerintah dan pro terhadap rakyat, tentu akan membahayakan sistem tata kelola negara, dan hal sebaliknya akan terjadi apabila media dominan pro terhadap kebijakan pemerintah. 


Opini dalam media harus berimbang. Kejelasan sumber fakta dan data harus dinomor satukan agar masyarakat tidak salah menilai sebuah peristiwa. Jangan sampai masyarakat sebagai pembaca terbodohi oleh karya-karya jurnalistik yang digunakan sebagai alat propaganda oleh segelentir pemilik kepentingan.


Begitu kuatnya peran opini dalam media massa, sehingga KH. Mustofa Bisri pernah berujar “Apa yang dikatakan pers hampir selalu dipercaya oleh publik. Begitu hebatnya pers, sehingga seandainya siang dikatakan pers malam pun, masyarakat (terutama yang lugu) akan mempercayainya.” Maka sudah sepatutnya opini media  massa berperan sebagai mana mestinya tanpa adanya intimidasi dari pihak mana pun.



Hakikat Hidup



Hakikat Hidup

Terkadang manusia bertanya pada diri sendiri sebenarnya apa hakikat hidup ini. Kebingungan mengenai hakikat hidup telah banyak membuat manusia lupa diri dan melupakan Tuhan pencipta alam. Kelupaan akan Tuhannya membuat manusia susah mengendalikan hawa nafsu, terus mengejar kehidupan dunia dan meninggalkan ibadahnya. Padahal ibadah kepada Allah merupakan modal besar amalan kita menuju gerbang kehidupan akhirat yang hakikinya akan dijumpai setelah wafatnya diri.


Secara ringkas, hakikat hidup bisa dipetik dari pernyataan Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, awal kehidupan adalah tangisan, pertengahannya adalah ujian dan ujungnya adalah kefanaan. Ketika lahir Anda menangis, dan tangisan itu akan menjadi warna kehidupan.


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. 57:20)


Dalam proses menjalani kehidupan, seseorang pasti akan menemui ujian hidup. Walaupun kadar kesulitannya berbeda-beda, ujian hidup itu pasti akan dijumpai oleh setiap hamba Allah. Ujian ini merupakan proses pendewasaan diri bagi manusia, dan jika manusia bisa sabar mengahadapinya maka Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat.


Namun, kebanyakan orang sering lupa dan sombong tidak mau bersyukur ataupun beribadah kepada Allah karena telah merasa puas dengan apa yang dimiliki saat ini. Orang yang memiliki gelar akademis atau pangkat yang tinggi terkadang merasa bisa melakukan semuanya tanpa perlu meminta pertolongan dari Allah. Orang tersebut menganggap semua masalah yang ada ia hadapi dapat diselesaikan dengan gelar atau pangkat yang dimilikinya. Ia lupa dari mana semua itu berasal. Padahal hakikinya semua yang dimiliki manusia sekarang ini adalah pemberian Allah yang sifatnya sementara. Semua itu akan ditinggalkan ketika ajal seorang manusia telah tiba.


Dalam Al-quran telah dijelaskan “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan”  (QS.21:35). Dari ayat tersebut hendaknya bisa disadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka akan sangat rugi bagi seseorang yang tidak mau berbuat baik atau memperbanyak ibadah sebagai bekal menuju akhirat nantinya.
 

Jadikan dunia ini sebagai sarana untuk mencari bekal menuju akhirat. Karena di akhirat nanti manusia hanya bisa memetik apa yang telah mereka semai semasa hidup di dunia. Jika menyemai benih kebaikan di dunia, maka manusia akan memetik kebaikan di akhirat nanti, begitu juga sebaliknya.