Kata opini berasal dari bahasa Inggris: Opinion yang
memiliki arti pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan atau
preferensi tertentu terhadap perspektif dan ideologi, akan tetapi bersifat tidak
objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian. Dapat pula
merupakan sebuah pernyataan tentang sesuatu peristiwa yang dimungkinkan berlaku
pada masa depan.
Pada media online maupun cetak, opini memiliki peran penting untuk memberi
pandangan terhadap sebuah peristiwa yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat. Apapun bentuk opini tersebut, baik artikel, karikatur, ataupun tajuk rencana, semuanya harus berdasarkan fakta opini. Saat ini yang paling memiliki dampak adalah opini di media online. Hal ini karena penyebaran informasi di media online yang sangat cepat tanpa mengenal batasan waktu dan lokasi.
Selain berperan sebagai pemberi perspektif bagi khalayak, opini media juga bisa menjadi sarana edukator bagi para
pembacanya. Melalui informasi fakta opini yang mengedukasi, pembaca akan dapat lebih memahami terhadap suatu kejadian atau peristiwa.
Opini media akan memberi pandangan baru terhadap peristiwa yang sedang disoroti oleh masyarakat. Media massa akan menjadikan opini sebagai alat untuk mempengaruhi pola pikir para
pembacanya. Hal ini yang dimanfaatkan media untuk menggiring masyarakat agar sejalur dengan media itu. Respon pembaca merupakan cerminan
masyarakat bagi media tersebut apakah berhasil mempengaruhi pola pikir khalayak atau tidak.
Peran opini pada media massa akan menentukan media tersebut akan
melangkah ke arah mana. Media massa bisa menentukan opini mereka mendukung kebijakan
pemerintah atau lebih memilih untuk bersifat independen. Keduanya tidak ada yang lebih tinggi atau
rendah, karena pers sebagai kaki keempat demokrasi dan dalam demokrasi
memerlukan keseimbanagan bentuk pola pikir pemerintah dan masyarakat. Jika
mayoritas media memilih beropini secara independen, mengkritisi semua kebijakan
pemerintah dan pro terhadap rakyat, tentu akan membahayakan sistem tata kelola
negara, dan hal sebaliknya akan terjadi apabila media dominan pro terhadap kebijakan pemerintah.
Opini dalam media harus berimbang. Kejelasan sumber fakta dan data harus dinomor satukan agar masyarakat tidak salah menilai sebuah peristiwa. Jangan sampai masyarakat sebagai pembaca terbodohi oleh karya-karya jurnalistik yang digunakan sebagai alat propaganda oleh segelentir pemilik kepentingan.
Begitu kuatnya peran opini dalam media massa, sehingga KH.
Mustofa Bisri pernah berujar “Apa yang dikatakan pers hampir selalu
dipercaya oleh publik. Begitu hebatnya pers, sehingga seandainya siang
dikatakan pers malam pun, masyarakat (terutama yang lugu) akan mempercayainya.” Maka sudah sepatutnya opini media massa berperan sebagai mana mestinya tanpa adanya intimidasi dari pihak mana pun.
